Chief Seattle The Earth does not belong to man; Man belongs to the Earth

Travel

Sastra

Story

Latest Release


Ilustrasi saja
by Wisnu Pamungkas

Sejak kecil kami diajari menghormati kata-kata, 
menjemputnya saat belajar bicara dan mengantarnya pulang setelah kelas selesai, 
dan kini kami tak punya apa-apa lagi setelah merdeka pergi, 
bahkan sekolah kami telah dibajak para perompak dari seberang

Aku mencintai buku, tapi buku tak mencintaiku, maka aku hanya menuliskan kata-kata,
pada lembar terakhir cerita engkau dan aku yang mabuk sampai sumuk karana tak mungkin bersama menjadi sepasang kunang-kunang atau pun kupu-kupu

Ayah juga tak mencintai ibu, karena ibu menipu ayah. Setiap pagi ibu melayani para serdadu.
Maka aku tak mau mengulangi kebodohan ayah. Lantas aku pergi ke perpustakaan mencari kasih sayang yang disembunyikan dalam rak buku-buku sejarah. Tak lupa kurapal kata-kata menjadi mantra, untuk meretas ruang dan waktu. Maka kuperdaya juga kata-kata untuk melaminanting kembali surat nikah ayah dan Ibu yang nyaris punah. 

Aku mencintai buku, tapi buku tak mencintaiku, 
karena itu aku berusaha melupakanmu dan tergoda kata-kata. 
Tapi guruku yang sotoi itu dulu memperkosanya menjadi bahasa. 
Mencabuli anak-anak kalimat, yang majemuk menjadi piatu. Sementara aku telah kehilangan tempat mengadu, sebab ibu dan ayah pula sudah lama meninggalkan rumah ruang dan waktu

Sejak itu aku memutuskan hidup menjadi tunakata, berkebun duka karena cinta pun sudah mati berkalang tanah.

Bandung, 7 Oktober 2017
 

Copyright © Alexander Mering
Borneo rose




by Wisnu Pamungkas

Sehari setelah pemilihan, ayah menyelinap keluar dari persembunyian

menenteng kantong kresek penuh kunang-kunang,
membagikannya kepada rakyat yang meraung-raung marah

Di balai kota, orang-orang memulai revolusi bunga,
menggunting puting susu di mulut anak-anak Kurawa
yang mengeram-ngeram mengincar pertumpahan darah





Jakarta, 2017
Copyright © Alexander Mering
www.fireflyexperience.org
By Wisnu Pamungkas



Tahukah kamu, dalam gerimis ada gaduh
tentang tubuh yang menggigil tanpa pelukmu,
tentang hangat yang masih melekat di ingatanku
yang sekarat di bawah kerdab-kerdip lampu

Tahukah kamu, setelah hujan reda,
tak kering juga air mataku yang diparuh rakus rindu,
kini cinta dan luka terbaring kaku di keranda yang sama,
di lembah Moa[2], dalam syair Sangkila[3] dan dongeng perburuan

Setelah senja, yang tersisa cuma sepotong selendang
batik bambu yang kau balutkan di leherku sambil menangis
Jika malam kuhidupkan gambarnya menjadi cahaya
kunang-kunang yang terbang melintasi pampa[4] kehidupan


Moa, 10 September 2017


[1]Bahasa Topo Uma di Sulawesi Tengah, Kalipopo berarti Kunang-kunang.  

[2] Berasal dari kata Moahu yang artinya berburu, kini Moa menjadi nama desa  di bawah administrasi Kecamatan Kulawi Selatan, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Indonesia.

[3] Seorang pemburu dan tokoh yang dianggap sebagai nenek moyang Orang Moa saat ini.

[4] Secara harafiah pampa adalah kebun, namun dalam sistem budaya masyarakat Topo Uma di Moa, Pampa merupakan wilayah kelola Perempuan.
 

Copyright © Alexander Mering

Ilustrasi


by Wisnu Pamungkas

Saat aku menanti engkau,
yang hadir adalah para penari
yang tiba-tiba muncul dari balik gerimis,
seperti trik sulap lama di panggung pasar malam
yang selalu membuat kita tergoda untuk menjadi biduan

Saat aku menanti engkau, yang muncul adalah kembang,
tiba-tiba memenuhi jambangan kosong di atas meja,
masih seperti trik sulap lama yang sudah tak pernah kita mainkan

Saat menanti engkau, yang muncul adalah purnama, hadir tiba-tiba di ranting tua
menjelma cahaya sihir yang melahirkan perasaan rindu seekor pungguk yang begitu mabuk hingga tak ingat lagi bagaimana membujuk rembulan

Saat menanti engkau, aku tersesat dalam malam pekat yang tak pernah memberiku lentera,
atau sekadar kerdap cahaya yang menuntunku pulang


Jakarta, 10 Juli 2017
Copyright © Alexander Mering


By Wisnu Pamungkas

Aku hanya ingin berbahagia
dengan cara yang sederhana,
walau hanya mengingat lambaian ujung kerudung hitammu
yang timbul tenggelam di dalam group WhatsApp

Aku hanya ingin berbahagia
dengan cara yang sederhana,
duduk di kursi peron sebuah stasiun,
membayangkan tangan kita saling menggenggam,
meski tak satupun ada kata-kata terucap

Aku hanya ingin berbahagia,
dengan cara yang sederhana,
mendengar namamu disebutkan, pun
hatiku bergetar ketika menuliskannya
menjadi sajak cinta dan sepucuk surat

Aku hanya ingin merindukanmu
tanpa perasaan piatu,
sunyi sendiri di liang lahat


Pontianak, 1 Juli 2017
Copyright © Alexander Mering

by Wisnu Pamungkas
 
Sejak hari itu, kubiarkan saja cinta menjadi kaca

tentu mudah retak atau pecah tiba-tiba

aku merindukan kamu, tapi kamu tak ada

Jadi biarlah kututup saja pintu,
disegel dengan materai 6000, agar sepi juga bisa segera menyempurnakan ngilu

Pontianak, 30 Juni 2017

Copyright © Alexander Mering

Ilustrasi

By Wisnu Pamungkas

menyesalah dia karena pernah memintal dawai
yang pernah diikatkannya pada tirai hujan
ketika musim melemparnya ke hutan
menerima kembali takdirnya yang adalah kosong

maka ditanggalkannya jua sayap
sebab angin selalu membujuknya terbang
berdua menjelajah nyala semesta yang gelap
tapi ia bukan juga sesiapa selain hanya ketiadaan

maka berdarahlah lagi luka
saat hampa menjelma kepompong      
mengirim rindunya ke negeri sihir
:gerimis selalu membuatnya ingin sekali menangis  

Pinggir Kapuas, 23 juni 2017
Copyright © Alexander Mering
By Wisnu Pamungkas

Dengarkanlah hujan, kalau jiwamu adalah teratak
yang mengucurkan air, meski luka oleh duka
yang menganaksungai tanpa pantai,
merindu jejak layar perahu Sinbad.

Ciminyak, 18 Juni 2018
Copyright © Alexander Mering
by Wisnu Pamungkas

Suatu hari di bulan juni, 
Ayah menemukan seorang bidadari
yang nekad turun ke bumi,
bertemu lelaki yang rambutnya beraroma hujan

Bidadari melepas jampi-jampi, mengirim amuk,
tapi rambut lelaki tersebut tetap saja hanya  daun lindap,
samadi sunyi di ranting bulan

Ayah hanya menari ketika bidadari melepas sayapnya,
meruapkan bau harum saat direngkuhnya pelukan
lelaki yang rambutnya beraroma hujan

Ketika senja ayah juga menyaksikan rindu yang menjelma sungai,
dilayari perahu Sinbad yang tak pernah tiba di pantai

Ayah menggambar sepasang sayap untuk cinta itu lelaki,
menjampi-jampinya menjadi kunang-kunang,
mengirim cahaya kecilnya ke cakrawala sebelum hujan

16 Juni 2017

Copyright © Alexander Mering